Mangkunegaran Performing Art 2014


Keraton Mangkunegaran Surakarta kembali menggelar hajatan tahunan “Mangkunegaran Performing Art” pada 9 dan 10 Mei 2014.  Tak kurang dari tujuh mahakarya seniman tari Keraton Mangkunegaran akan ditampilkan pada acara tersebut, termasuk yang paling banyak menyedot perhatian ratusan pengunjung pada acara pembukaan Jumat (9 Mei 2014) malam adalah wayang bocah berjudul “Wahyu Cakraningrat.”

Ditampilkan oleh sekitar 40 penari muda dari Kota Surakarta, Wayang Bocah Wahyu Cakraningrat mengambil cerita tentang anak-anak keturunan Barata, yakni Lesmana, Abimanyu dan Sombo.  Mereka menjalani hidup tak ubahnya anak-anak pada umumnya, namun ketika mereka mendapat titah dari Sang Guru Sidik Wacana untuk memberantas raksasa perusak yang tinggal di hutan, mereka langsung menurutinya. 

“Ini wujud penggemblengan, dalam istilah Jawa “ditodhi” yang artinya... Menjadi murid itu... Sopo sing tekun bakal katekan, sopo sing satiti bakal mukti (Barangsiapa yang tekun akan mampu meraih cita-citanya, barang siapa yang sungguh-sungguh akan mulia),” tutur pembawa acara sebelum tari pamungkas itu tampil.

Menurut Jonet Sri Kuncoro, S.Kar, M.Sn., sang sutradara, Wayang Bocah Wahyu Cakraningrat sempat menyabet gelar Juara Satu pada Festival Bocah tahun 2013, mengalahkan beberapa tari kontemporer lainnya dari beberapa sanggar seni dari seantero Kota Surakarta dan sekitarnya.  Persiapan untuk pentas malam itu sendiri memakan waktu selama satu bulan, ditambah dengan kendala dekatnya musim ujian bagi beberapa penari yang memang masih duduk di bangku sekolahan.

Selain Wayang Bocah Wahyu Cakraningrat, Mangkunegaran Performing Art 2014 hari pertama juga menampilkan Tari Batik, Tari Kukilo dan Tari Gambyong Retna Kusuma, yang sempat ditampilkan di Museum Wealth, Wina, Austria pada September 2013.  Selain pertunjukan tari yang diiringi orkes Karawitan pimpinan Dedek Wahyu Sutrisno, Mangkunegaran Performing Art 2014 juga dimeriahkan dengan pameran kuliner khas Mangkunegaran.

Esti Andrini, S.Sn, M.Si, ketua panitia Mangkunegaran Performing Art 2014, menjelaskan bahwa dimasukannya pameran makanan tradisional khas Mangkunegaran pada pergelaran tahun ini ditujukan agar masyarakat mengetahui makanan favorit raja-raja di Keraton Mangkunegaran.  Dengan mengetahui bahwa beberapa makanan tradisional tersebut adalah kesukaan para raja, Esti berharap masyarakat lebih mencintai dan menggemarinya sehingga berkontribusi pada perekonomian mikro Kota Surakarta.

Mangkunegaran Performing Art 2014 digelar selama dua hari berturut-turut pada 9 hingga 10 Mei 2014.  Meski bertajuk kegiatan tahunan, namun – menurut Esti – pergelaran tahun ini dirasa lebih istimewa karena bertepatan dengan hari lahir Gusti Pangeran Haryo (GPH) Herwastokusumo, pendiri Sanggar Seni Soeryo Soemirat.  Sementara pada hari pertama lebih banyak menampilkan mahakarya seni tari dari generasi muda, pergelaran pada hari kedua akan fokus pada tari tradisional khas Keraton Mangkunegaran seperti, Tari Srimpi Pandelori, Tari Gathotkaca-Antasena, dan Tari Adaninggar-Kelaswara.

“Setiap tahun itu kita menampilkan lain terus.  Jadi tarinya kan banyak sekali, kita ada catatannya, tahun ini kita sudah menampilkan ini, berarti besok tahun depan kita harus menampilkan yang lain lagi,” tutur Esti kepada PariwisataSolo.Surakarta.Go.Id.  “Tujuannya supaya masyarakat tahu kekayaan tari di Mangkunegaran itu sendiri.” (Sumber : pariwisata surakarta)





















More picture Follow IG @yosiadta
SEKIAN || TERIMAKASIH


0 komentar:

Poskan Komentar

 

Flickr Photostream